Wahai Saudaraku, Dunia adalah Racun Pembunuh

Wahai saudaraku, dunia adalah racun pembunuh, sementara jiwa lengah akan tipuannya. Betapa banyak pandangan manis di dunia sementara pahitnya di akhirat tidak tertanggung.

Wahai manusia, hatimu rapuh, pandanganmu kabur, matamu lepas, lisanmu menjaring dosa, dan tubuhmu penat mengais-ngais puing dunia.

Wahai Saudaraku, Dunia adalah Racun Pembunuh

Betapa banyak pandangan nista yang menggelincirkan.

Ku kecam hatiku
melihat kurusnya tubuhku
Hatiku pun mencela mataku
seraya berkata, "Engkau adalah utusanku"
Mataku pun menjawab,
"Justeru engkaulah petunjukku"
Akhirnya ku katakan, "Berhenti!
Kalian ingin membunuhku?!"

Nabi Isa as bersabda, "Pandangan mata menanam syahwat dalam hati."

Al-Hasan berkata, "Barang siapa melepas pandangan, banyaklah penderitaannya."

Ibrahim as. mendendangkan:

Jika ada yang diberi musuh dan pendengki
maka aku diberi mata dan hati.

Ibn Abbas ra. menceritakan bahwa Rasulullah saw. didatangi oleh seseorang berlumur darah. Rasulullah saw. bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?" Orang itu menjawab, "Aku melintas dihadapan seorang wanita. Ia terus kutatap, hingga aku membentur dinding. Beginilah akibatnya". Nabi saw. bersabda, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang. Dia segerakan hukuman untuknya di dunia."

Abu Ya'qub al-Nahjuri bercerita:

Ketika bertawaf, aku mendengar seorang bermata satu berdoa, "Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu." Aku bertanya, "Mengapa anda berdoa seperti itu?" Ia menjawab, "Saya sudah lima puluh tahun hidup bertetengga. Suatu hari, saya memandang seseorang yang saya anggap rupawan. Tiba-tiba sebuah tamparan keras menimpa mataku hingga darah membasahi pipi. 'Aduh, 'ujarku. Tak lama kemudian, satu tamparan lagi datang. Setelah itu ada suara: 'Seandainya engkau lakukan lagi, akan Kutambah.'"

Biarkan aku menyeru Tuhan Yang Maha Agung
kala malam menurunkah tirainya padaku
Kulihat Engkau dengan kerendahan hati, agar Engkau, Tuhan,
sudi menerimaku
Engkau adalah Tuhan yang tidak pernah berubah
Segala puji, kemulian dan kebesaran adalah milik-Mu
Engkau adalah Tuhan yang senantiasa
Terpuji, Pemurah, Agung, dan Mulia
Kau matikan manusia dan Engkau hidupkan tulang
Kau ciptakan generasi demi generasi masa demi masa
Kebesaran-Mu begitu agung dan perbuatan-Mu teramat mulia
Karunia-Mu berlimpah bagi hamba yang meminta 
Engkau Zat Tercinta dan Maha pengampun dosa
Kau tutupi aib dan Kau maafkan orang bodoh yang bersalah
Engkau hanya menuntut sedikit, sementara
Engkau memberi berlimpah karunia dan anugerah
Khazanah kedermawanan-Mu tak pernah usai
mencakup si bakhil dan sang pemurah.

Seorang arif bercerita:

Kami, bersama rombongan, pergi dari Irak menjuka Mekkah dan Madinah. Di antara kami ada seorang laki-laki Irak yang pada tubuhnya kuningnya, terdapat warna merah kekuningan. Darah di wajahnya tampak hilang karena tekunnya ibadah. Ia memakai baju usang penuh tambalan. Tangannya memegang tongkat dan perbekalan.

Abid dan zahid itu adalah Uwais al-Qarni. Rombongan merasa tidak nyaman dengan penampilannya. Mereka berkata kepadanya, "Sepertinya engkau seorang hamba."
"Ya," jawabnya.
"Sepertinya engkau seorang hamba berkelakuan buruk yang lari dari majikan."
"Ya," jawabnya.
Mereka melanjutkan, "Bagaimana perasaanmu setelah lari dari tuanmu? Bagaimana keadaanmu? Bukankah jika engkau tinggal bersamanya, keadaanmu tidak seperti ini? Engkau hamba berkelakuan buruk dan bersalah." Uways menanggapi, "Ya, aku memang hamba yang buruk. Majikan paling baik adalah Majikanku, namun aku malah banyak berbuat salah. Seandainya aku taat kepada-Nya dan meminta ridha-Nya, tentu aku tidak seperti ini." Ia lalu menangis hingga nyaris mati.

Melihatnya begitu, orang-orang merasa iba. Mereka mengira bahwa yang dimaksud olehnya majikan di dunia, padahal yang dimaksud adalah Tuhan Rabbul alamiin. Seseorang menasihati, "Jangan takut, aku akan meminta jaminan keselamatan dari majikanmu. Kembalilah dan mintalah ampun!"

Uways berujar, "Aku akan kembali kepada-Nya dan mengharapkan yang ada pada-Nya."

Uways pergi berziarah ke makam Rasulullah saw. pada hari yang sama dengan rombongan. Mereka berjalan bersama dengan penuh semangat. Ketika malam tiba, mereka singgah di tanah lapang. Saat itu malam begitu dingin dan turun hujan lebat. Mereka berlindung di kendaraan dan kemah masing-masing, kecuali Uways. Ia hanya berdiam di tanah terbuka dan tidak menumpang kemana-mana. Ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak meminta sesuatu pun kepada makhluk. Ia meminta semua kebutuhannya hanya kepada Allah SWT. Begitu dinginnya udara saat itu sehingga sekujur tubuhnya menggigil. Ia akhirnya mati kedinginan di tengah malam itu.

Pagi harinya, ketika rombongan hendak pergi, mereka menyeru Uways, "Bangunlah! Orang-orang sudah berangkat." Karena Uways tidak memberikan jawaban, lelaki yang terdekati mendatangi dan menggerak-gerak badannya. Ia pun mendapati Uways telah meninggal dunia. "Wahai rombongan, hamba yang lari dari majikannya ini telah mati", serunya, "kalian tidak boleh pergi sebelum menguburnya."

Sebagian mereka berujar, "Di sini tidak ada air." Sebagiannya lagi mengatakan, "Coba tanya si penunjuk jalan!" Si penunjuk jalan berkata, "Untuk mencapai air, diperlukan waktu satu jam. Utuslah satu orang bersamaku, aku akan membawakan air buat kalian."

Si penunjuk jalan kemudian mengambil ember. Belum jauh berjalan, tiba-tiba ia melihat kolam air. "Sungguh aneh aku tidak pernah melihat kolam ini sebelumnya. Setahuku, di sekitar sini tidak pernah ada air," ujarnya.

Dengan segera ia kembali kepada rombongan seraya berkata, "Kebutuhan kalian telah tercukupi. Kalian tinggal menyiapkan kayu bakar." Mereka kemudian mengumpulkan kayu bakar untuk memanaskan air. Ketika mereka pergi ke kolam tadi untuk mengambil air, ternyata airnya telah panas. Mereka pun bertambah heran. Timbullah rasa takut mereka terhadap Uways. "Hamba ini pasti memiliki keistimewaan," simpul mereka.

Mereka mulai menggali kuburannya. Ternyata tanah yang digali sangat lunak dan menebarkan aroma seharum kesturi. Tidak pernah merka mencium sewangi itu. Mereka semakin takut dan cemas. Yang mereka lihat memang hanya tanah, tetapi tanah itu begitu harum bak misik.

Mereka kemudian mendirikan kemah dan menempatkan jenazah Uways di dalamnya. Mereka berebut ingin mengafani Uways. Masing-masing berkata, "Saya saja yang mengafaninya." Akhirnya mereka sepakat bahwa setiap orang dipersilahkan menyumbang kafan untuknya.

Mereka mengambil tinta dan kertas untuk menulis ciri-ciri Uways. Pikir mereka, "Apabila kita sampai ke Madinah insya Allah, mudah-mudahan ada yang mengenalnya di sana." Catatan tersebut mereka letakkan di tempat barang.

Ketika telah dimandikan dan hendak dikafani, baju yang melekat di tubuh Uways tersingkap. Ternyata ia telah dikafani dengan kain dari surga. Baru pertama kalinya mereka semua menyaksikan hal semacam itu. Mereka mendapati misik dan ambar pada kafan itu. Wanginya menyebar ke segala penjuru. Di kening dan kakinya pun terdapat cap dari kesturi.

Mereka mengucapkan, "Laa hawlaa wa laa quwwataa illa billah al-'aliyy al-'azhiim. Allah Swt. telah mengafaninya dengan sempurna sehingga tidak memerlukan kafan manusia. Semoga Allah menganugerahkan surga kepada kita dan merahmati kita dengan sebab hamba shaleh ini." Mereka sangat menyesal telah menelantarkannya hingga mati kedinginan malam itu.

Mereka lalu membawanya untuk disalatkan dan dikebumikan. Ketika mereka bertakbir, mereka mendengar suara takbir dari seluruh penjuru langit dan bumi. Jantung dan mata serasa akan copot. Saking takutnya, mereka tidak tahu bagaimana menyalatkannya. Mereka semakin takut ketika mendengar suara dari atas. Setelah itu, mereka membawanya untuk dikubur. Jenazahnya begitu ringan seolah-olah terbang. Mereka menguburkannya dan meninggalkan kuburannya dengan membawa perasaan heran dan takjub.

Tatkala sampai di masjid Kufah, mereka memberitahukan kejadian di atas dan ciri-ciri orang tersebut. Ternyata orang-orang di sana mengenalnya. Suara tangis pun bergemuruh di masjid Kufah. Seandainya tidak ada informasi ini, tidak ada yang mengetahui kematian dan kuburannya, karena Uways senantiasa bersembunyi dan menghindari manusia. Semoga Allah Swt. memberi kita manfaat melalui keberkahannya.

Artikel sebelumnya: Saudaraku Bangunlah Dari Lalaimu

Disqus Comments