Pengertian Asmaul Husna dan Etika Membaca Asma Allah ini


Pengertian Asmaul Husna


Al-Asma Al-Husna berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata Asma dan Husna. Asma merupakan bentuk jamak dari kata al-ism (ismun) yang berarti nama-nama. Ia berakar dari kata al-sumuuwwu yang berarti tinggi atau al-simah yang berarti tanda.

Hal karena nama memang tanda dari segala sesuatu sekaligus eksistensinya harus dijunjung tinggi.

Sementara al-husna merupakan bentuk mu’anats/feminim dari kata ahsan yang berarti terbaik atau teragung. Memberikan sifat kepada Allah dalam bentuk superlative menunjukkan nama-nama tersebut merupakan realitas yang terbaik.

Dengan demikian pengertian asmaul husna adalah nama-nama yang terbaik yang hanya dimiliki Allah yang tidak ada kekurangannya sama sekali.

Seorang yang beriman harus dapat meneladani nama-nama ini sebagai wujud penghambaan kepada Allah. Karena peneladan nama-nama agung Allah ini akan memiliki manfaat yang besar bagi kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagai seorang hamba kita dianjurkan untuk mengetahui dan berdoa kepada Allah swt dengan menyebut nama-namaNya itu. Dengan menyebut nama-nama-Nya yang terangkum dalam asmaul husna, hati akan menjadi tenang dan tenteram karena kita senantiasa merasa dekat dengan Allah.

Manfaat besar dari lafaz yang agung tersebut baru dapat dirasakan bila kita mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya dan istiqomah setiap hari mengamalkannya.

Pengamalan asmaul husna dapat dilakukan dengan amalan hati dan amalan badan, yaitu dengan berzikir menyebut sambil meresapi nama-nama  tersebut  dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang melanggar syara’ dalam kehidupan kita sehari-hari.

Setiap sifat dari asmaul husna menuntut suatu pengamalan ibadah tertentu. Ketika mengamalkan nama Allah Al-Waahid (Yang Maha Esa) misalnya, maka orang tersebut harus benar-benar menundukkan hatinya, percaya dan yakin bahwa tidak ada satu Dzat pun selain Allah swt yang pantas untuk disembah.

Yakin pula hanya Dia yang menghidupkan, mematikan, dan mengatur segalanya.  Kemudian diikuti dengan pengamalan badan, yaitu mendirikan shalat dan ibadah-ibadah lainnya dengan baik dan benar.

Orang-orang beriman diwajibkan mengimani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam asmaul husna tersebut dan meneguhkan keyakinannya bahwa sifat-sifat ini hanya milik Allah bukan yang lain.

Jika ada makhluk dinamai seperti asmaul husna maka hukumnya haram, apalagi jika tujuan penamaan itu adalah untuk merendahkan martabat-Nya.

Sesorang boleh diberi nama dengan asmaul husna dengan catatan sebelum asma itu harus diberi nama yang menunjukkan dia sebagai seorang makhluk yang diciptakan Allah. Misalnya, Abdul Shomad (Abdul = hamba sedangkan Shomad = nama dan sifat Allah yang artinya Maha Tempat Bergantung).

Jumlah keseluruhan dari nama Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim dan hadis adalah 99 nama.
Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu, barang siapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Etika Membaca Asmaul Husna


Dalam buku Puncak Munajak karya guru kami Sukarnawadi H. Husnuddu’at  atau yang biasa dipanggil TGH. Husnuddu’at, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan mengangkat tinggi derajatnya, menyebutkan bahwa manakala seorang berdoa dengan Asmaul Husna hendaknya:

  1. Mengerti arti dari Asmaul Husna (isim) yang dipilih, setelah itu baru mulai berdoa.

  2. Menghayalkan di dalam hatinya, kebesaran Allah Yang Maha Memperkenankan Doa.

  3. Ikhlas semata-mata karena Allah.

  4. Dimulai dengan kalimat: Allahumma...

  5. Mendahului nama-nama Allah yang dipergunakan berdoa dengan huruf Nida’ seperti mengatakan: Yaa Allahu Yaa Rahmaanu Yaa Rahiim.

  6. Menjauhkan yang haram, baik makanan, minuman, dan pakaian.

  7. Melakukan amal saleh sebelum berdoa, agar menjadi penyebab terkabulnya doa.

  8. Suci dari hadats besar maupun kecil.

  9. Menghadap kiblat.

  10. Mengangkat tangan.

  11. Menyapu muka dengan kedua tangan seusai berdoa.

  12. Berdoa untuk diri sendiri terlebih dahulu, kemudian berdoa untuk orang lain.

  13. Menghadirkan hati sesuai dengan doa.

  14. Mengulang-ulang doa.

  15. Tidak memohon sesuatu dosa atau Qothiurrahim (terputusnya kasih sayang).

  16. Memohon semua hajatnya.

  17. Yang berdoa dan yang mendengar sama-sama mengucapkan amin.

  18. Tidak tergesa-gesa seperti mengatakan: Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan.

  19. Semua permohonan (doa) didahuluinya dengan nama Allah yang memakai huruf Nida’.

  20. Memohon dengan sungguh-sungguh.


Kata beliau selanjutnya: “Demikianlah Asma-ul Husna yang mempunyai kelebihan dan khasiyat tak terhitung banyaknya”.

Baca juga : PENGERTIAN FADILAH.

Walhamdulillah. Semoga bermanfaat.

Disqus Comments