Hikmah Anjuran Bersedekah Secara Sembunyi-sembunyi

Apa sebenarnya hikmah anjuran bersedekah secara sembunyi-sembunyi? Pada artikel kali ini, kita akan mencoba membeberkannya agar yang tersembunyi menhjadi tersingkap dan yang samar menjadi terang.
Hikmah Anjuran Bersedekah Secara Sembunyi-sembunyi

Tentu di antara kita sekalian, pernah melihat atau mungkin pernah didatangi oleh seseorang yang membutuhkan bantuan, bagaimana ekspresi dan sikap tubuh orang yang datang meminta bantuan itu.

Tampak jelas pada orang yang sedang memerlukan pertolongan itu sikap kikuk, ragu, cemas dan kelihatan sangat memelas. Sikap ini tidak bisa disembunyikan ketika seseorang meminta belas kasihan dari orang lain, bagaimana pun mereka kepingin bersikap tenang. Tetap akan terlihat pada raut wajah.

Karena memang untuk mendapatkan pertolongan tidak ada jalan lain kecuali dengan memelas di depan sang penolong.

Inilah yang harus tetap kita ingat dan bayangkan ketika kita bermaksud memberikan sesuatu secara terang-terangan kepada orang fakir miskin (bukan pengemis) di tengah keramaian.

Kalau kita melakukan cara itu, sama saja dengan mewartakan kemiskinan orang tersebut pada setiap orang yang ada di tempat keramaian itu.

Bisa jadi

Secara psikologis itu akan berdampak buruk pada pribadi si peminta.

Kebaikan bisa berubah menjadi malapetaka.

Sebab..

Orang yang bersedekah itu telah menghinakannya, walaupun mungkin ia berniat tulus.

Di dalam agama kita Islam, bersedekah dengan cara terang-terangan tidak dilarang dan tetap berpahala selama niat ikhlas karena Allah. Namun tidak semua orang bisa lapang diberikan secara terang-terangan dihadapan khalayak.

Jika kita mampu memberikan sedekah secara sembunyi-sembunyi mengapa tidak mengambil cara ini.

Ada dua kebaikan yang akan kita peroleh dengan cara diam-diam ini.

Pertama, kita meringankan beban kesulitan orang fakir yang membutuhkan pertolongan kita.

Kedua, kita mampu menyembunyikan rasa memelasnya di hadapan khalayak ramai.

Allah Ta’ala berfirman:

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu memberikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Qur’an Surat Albaqarah: 271.

Hikmah lain dari bersedekah secara sembunyi-sembunyi adalah bahwa seseorang yang berbuat sesuatu kebaikan dengan terang-terangan akan mudah terjebak ke dalam sikap riya’.

Riya’ dapat menghapuskan pahala amal kebaikan, bahkan ujung-ujungnya dapat menjerumuskan ke dalam azab. Sebab riya’ dikatakan sebagai bentuk syirik kecil.

Baca pula HIKMAH ZAKAT

Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan ia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah. Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat dan bersihlah ia (tanpa tanah lagi). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir. (QS. 2:264).

Di dalam hadis disebutkan:

Nabi saw. bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dilindungi Allah pada hari ketika tidak ada lindungan lain selain lindungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang terus beribadah kepada Allah, dua orang yang menjalin cinta karena Allah – bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang hatinya terus terkait dengan masjid sejak keluar hingga kembali lagi, seorang laki-laki yang diajak wanita cantik dan punya kedudukan, dan ia menjawab, ‘Aku takut kepada Allah, Tuhan alam semesta,’ dan seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanan.”

Ini merupakan hadis terkenal tentang anjuran bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi dan bersikap rendah hati ketika memberikan sedekah.

Berikut ini adalah contoh yang begitu agung dan memiliki nilai etika tinggi. Patut menjadi perhatian dan renungan bagi kita sekalian.

Pada suatu riwayat dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang termasuk tokoh masyarakat tertimpa bencana dan semua miliknya musnah. Al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib waktu itu hendak membagikan jatah dari Baitul Mal untuk keluarga Ahlul Bait (keluarga Nabi saw.).

Laki-laki itu lalu mewartakan keadaan dirinya kepada al-Husain sambil menyerahkan selembar identitasnya. Ia berkata dalam senandung:

Nyata bagimu keadaan diriku

Hanya air muka memelas yang kumiliki

Akan kujual, dan betapa bahagia bila Anda membelinya

Setelah mendengarkan keluhannya, al-Husain langsung menyerahkan seluruh harta bagiannya yang diambil dari Baitul Mal, harta yang merupakan jatah keluarga Ahlul Bait selama setahun penuh.

Lembar identitas itu dikembalikan kepada lelaki itu. Di bagian belakangnya ia menuliskan bait berikut:

Engkau telah menyegerakan kami,

Dan kami pun menyergerakan kebaikan kami.

Sebuah peringatan, andai kami melalaikannya;

kami tak akan menjadi miskin. Ambillah sedikit.

Pergilah seakan-akan engkau tak pernah menjual wajahmu

dan kami tak pernah membelinya.

Kemudian laki-laki itu pergi seraya berterima kasih dan menyanjung kebaikan beliau.

Semoga Allah membimbing kita menuju nilai-nilai kebaikan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Sumber :
Rahasia-Rahasia Ibadah; Syaikh Ali Ahmad al-Jurjawi

Disqus Comments