Fadlilah Masjid dan Tempat Shalat

Fadlilah Masjid dan Tempat Shalat


Masjid merupakan bangunan tempat kaum beriman (Islam) untuk mengingat dan menyembah Allah Subhanna Wa Ta’la. Itulah sebabnya dikatakan rumah Allah di muka bumi adalah masjid.

Fadlilah Masjid dan Tempat Shalat

Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Berfirman Allah Ta’ala pada sebagian kitab-kitab: “Bahwa rumahKu (rumah tempat menyebut nama-Nya dan mengingati-Nya) di bumiKu ialah masjid. Orang-orang yang berziarah kepadaKu dibumiKu ialah orang-orang yang meramaikan masjid-masjid. Maka selamatlah bagi hambaKu yang bersuci di rumahnya, kemudian menziarahi Aku di rumahKu. Maka sebenarnya atas yang diziarahi (dikunjungi) memuliakan yang berziarah (yang mengunjungi).” (Dirawikan Abu Na’im dari Abi Sa’id, dengan sanad dla’if).

Orang yang tergerak untuk mendatangi masjid lalu shalat di dalamnya berarti sama dia datang bersilaturrahmi dengan Allah. Orang yang sering dan senang pergi ke masjid maka tumbuhlah perasaan cinta antara yang di datangi dan mendatangi.

Baca : Pentingnya Shalat Fardlu

Sebagaimana seorang karib yang sering saling mengunjungi maka timbullah di antara keduanya perasaan mesra dan terikat dengan kasih sayang.

Dalam hadis dengan sanad dla’if yang dirawikan oleh Ath-Thabrani dari Abi Sa’id, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa hatinya sayang kepada masjid, niscaya ia disayangi oleh Allah Ta’ala.”

Orang yang senang meramaikan masjid-masjid dengan berbagai ibadah di dalamnya dijamin oleh Allah SWT dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai seorang yang beriman, sebagaimana firman-Nya:

“Hanyalah yang berhak meramaikan masjid-masjid Allah, ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.” (Al-Baqarah: 18).

Nabi saw bersabda:

“Barang siapa membangun masjid karena Allah walaupun sebesar sarang burung, niscaya didirikan oleh Allah baginya sebuah mahligai di dalam sorga.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usman).

Sedangkan dalam hadis yang dirawikan oleh At-Tirmidzi dan lain-lain dari Abi Sa’id, Rasulullah bersabda:

“Apabila kamu melihat orang yang biasa ke masjid, maka naik saksilah baginya dengan keimanan!”

Shalat di masjid yang dimaksudkan di atas adalah shalat dengan berjamaah.

Betapa pentingnya shalat berjama’ah di masjid, selain pahalanya yang berlipat-lipat dibanding dengan shalat sendirian, shalat di masjid juga merupakan salah satu syiar agama. Bahkan Nabi telah memperingatkan bagi orang-orang yang rumahnya dekat dengan masjid, dengan sabda beliau sebagai berikut:

“Tak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid, melainkan dalam masjid.”

Zahir hadis itu adalah orang-orang yang shalat sendirian di rumahnya padahal dia dekat dari masjid, maka shalatnya itu tidak akan diterima kecuali orang itu melakukan shalat berjamaah di dalam masjid.

Ketika orang memasuki masjid, maka adab yang terbaik dan merupakan sunnah adalah melaksanakan shalat dua rakaat tahiyatul masjid sebelum dia duduk sebagai bentuk penghormatan terhadap rumah Allah. Hal ini dinyatakan dalam hadis Nabi saw. sebagai berikut:

“Apabila masuk seorang kamu dalam masjid, maka hendaklah ia ruku’ (mengerjakan shalat) dua raka’at sebelum duduk”. (Bukhari dan Muslim dari Abu Qatadah).

Ketika sudah selesai melaksanakan shalat atau ketika masih berada di dalam masjid hendaklah jangan berkata-kata selain dengan zikrullah, membaca Alquran atau mengadakan kajian Islam yang dapat menambah keimanan dan ketakwaan ummat.

Hindari membicarakan urusan-urusan dunia dan berkata-kata yang tidak ada faedah bagi keimanan dan ketakwaan ummat muslim.

Karena ketika kita berada di dalam masjid berarti kita sedang bersama Sang Pencipta.

Berkata Sa’id bin Al-Musayyab: “Barangsiapa duduk di dalam masjid, maka sesungguhnya ia duduk bersama Tuhannya. Maka tiada berhak ia mengatakan melainkan yang baik”.

Disebutkan juga dalam perkataan sahabat (atsar) atau dalam hadis Nabi saw. bahwa : “Berbicara di dalam masjid itu memakan segala kebajikan, sebagaimana binatang ternak memakan rumput.”

Tentu yang dimaksud dengan atsar di atas adalah berbicara yang tidak mengandung faedah sama sekali bagi keimanan dan ketakwaan seseorang.

Maka hati-hatilah jangan anda banyak berbicara tentang urusan-urusan dunia, seperti perdagangan, jual beli dan lain-lain, apalagi sampai bergosip dan menggibah di dalam masjid.

Ingat, masjid adalah tempat mengingat Allah dan bermuzakarah untuk meningkatkan keimanan kepada Allah Swt dan Rasulnya serta semua yang termuat dalam rukun Iman.

Orang-orang Islam yang bersusah payah pada waktu kegelapan malam menuju masjid untuk beribadah di dalamnya dengan niat semata-mata hanya kepada Allah Ta’ala maka balasannya kelak di Hari Akhirat adalah tiada lain surga.

Berkata An-Nakha’i : “Adalah mereka berpendapat bahwa berjalan dalam malam yang gelap ke masjid adalah mewajibkan sorga”.

Sedangkan bagi orang-orang beriman yang menyalakan lampu masjid atau mengeluarkan harta untuk penerangan masjid maka dia akan mendapat balasan seperti apa yang dikatakan oleh Anas bin Malik berikut:

“Barangsiapa memasang lampu dalam masjid, niscaya senantiasalah para malaikat dan pemikul ‘Arasy meminta ampun baginya selama masih ada cahaya lampunya di dalam masjid itu”.

Tentang keutamaan tempat shalat atau mushalla


Tempat shalat atau mushalla adalah suatu tempat atau kamar khusus yang berada di dalam rumah yang digunakan untuk melaksanakan shalat, membaca alquran dan berdzikir.

Berkata Ali r.a. : “Apabila meninggal dunia seorang hamba, maka ia ditangisi oleh mushallanya dari bumi dan oleh pembawa naik amalannya dari langit”. Kemudian Ali membaca ayat 29 dari Surat Ad-Dukhan berikut:

فمابكت علىهم السماء والاض وماكانوا منظرىن

Artinya: “Langit dan bumi tiada menangisi mereka dan mereka pun tiada diberi tangguh”. (QS. Ad-Dukhan: 29).

Berkata Ibnu Abbas ra. : “Bumi menangisinya empat puluh pagi”.

Berkata ‘Atha’ Al-Khurasani : “Tidaklah seorang hamba yang bersujud kepada Allah satu sujud pada suatu pelosok dari pelosok-pelosok bumi, melainkan pelosok itu naik saksi baginya pada hari kiamat dan menangisi kepadanya pada hari ia meninggal dunia”.

Berkata Anas bin Malik : “Tiadalah suatu pelosok yang disebutkan nama Allah padanya dengan shalat atau dengan dzikir melainkan pelosok itu membanggakan diri dengan pelosok-pelosok lain disekitarnya. Dan merasa gembira dengan mengingat Allah ‘Azza wa Jalla sampai kepada lapisannya yang paling penghabisan dari tujuh lapis bumi. Dan tiadalah seorang hamba yang bangun berdiri mengerjakan shalat melainkan terhiaslah bumi karenanya”.

Dan ada yang mengatakan : “Tiadalah suatu tempat yang ditempati padanya suatu kaum, melainkan jadilah tempat itu berdoa kepada mereka atau mengutuknya”.

Sumber: Ihya' Ulumuddin - by Imam Alghazali

Disqus Comments