Saudaraku Bangunlah dari Lalaimu

Saudaraku, bangunlah dari Lalaimu

Saudaraku, bangunlah dari lalaimu, sebab kelalaian adalah tidur pulas yang panjang. Bersiap-siaplah untuk akhiratmu, sebab dunia ini hanyalah tempat mampir dari tidur siang.

Saudaraku Bangunlah dari Lalaimu

Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah Swt. mewahyukan kepada salah seoran Nabi-Nya,

“Wahai nabi-Ku, sungguh berbeda orang yang bermaksiat dan melaggar perintah-Ku dengan orang yang menghabiskan usia untuk selalu berhubungan dengan-Ku, mengingat-Ku, berada di pintui-Ku, serta membasahi pipinya untuk-Ku. Betapa malunya orang yang berbuat dosa dan betapa menyesalnya orang yang tidak beramal.”

Menyendirilah jika ingin mendekat
Tinggalkanlah manusia jauh disana
Berusahalah memutuskan segala ikatan dalam hidup dengan
menembus hijab yang fana.

Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Wahai para sahabatku, tahukan kalian siapa itu orang bangkrut? Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, orang bangkrut, menurut kami, adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa salat, puasa, zakat, dan sedekah, tetapi ia pernah mencari fulan, menganiaya fulan, memakan harta fulan, dan menumpahkan darah fulan.

Karena itu, ia harus membayar “ganti rugi” kepada mereka dengan kebaikannya. Ternyata sebelum kewajibannya terbayar lunas, kebaikannya sudah habis.

Akhirnya, kesalahan dan dosa mereka diambil dan dipikulkan kepadanya, lalu ia pun dicampakkan ke neraka. Inilah orang yang bangkrut.”
Semoga Allah Swt. melindungi kita dari hal tersebut.

Seorang saleh bercerita:

Aku pergi ke masjid untuk menemui Ibrahim ibn Adham, namun ia tidak ada di sana. Seseorang memberi tahu bahwa Ibrahim telah keluar dari masjid. Aku pun keluar mencarinya.

Ternyata ia sedang tidur di tengah lembah di bawah teriknya sinar mentari. Seekor ular besar melingkar di atas kepalanya. Ular itu mengibas-ngibaskan setangkai bunga melati di mulutnya untuk mengusir lalat dari Ibrahim.

Aku terheran-heran melihatnya. Tiba-tiba ular itu dibuat berbicara oleh Allah Yang menjadikan segala sesuatu berbicara. Kata si ular, “Apa yang kau herankan?” Aku menjawab, “Aku heran dan takjub dengan perbuatanmu dan terlebih lagi dengan kemampuanmu berbicara, padahal engkau musuh manusia.”

“Demi Allah, Allah hanya menjadikan kami musuh bagi mereka yang durhaka, sementara kami tunduk kepada hamba yang taat,” jawab si ular.

Perbuatanku buruk, sementara prasangkaku baik
Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Pemberi
Engkau menentang Tuanmu, wahai pemaksiat tetapi takut kepada tetangga karena kecerdasannya
Aku masih melakukan dosa, padahal uban sudah datang
Demi Allah, wahai diri, apakah begini baik?
Bangkitlah kepada-Nya, wahai hamba, dan berharaplah
Katakanlah kepada-Nya, “Wahai Pelimpah karunia”
Ucapkanlah, “Wahai Tumpuan harapan
Jika bukan Engkau yang memaafkanku, siapa lagi?

Dengan kebenaran Nabi, sang pilihan dengan kebenaran al-Husayn dan al-Hasan
Apakah orang sepertiku disorongkan kepada penguasa padahal Engkau mengetahui tubuhku lemah.

Al-Hasan al Bashri hendak menyampaikan nasihat.

Orang-orang berdesak-desakan untuk mendekatinya. Ia lalu mendatangi mereka seraya berkata, “Wahai saudara-saudara, kalian berdekatan untuk mendekatiku?

Lalu, begaimana keadaan kalian pada Hari Kiamat kala majelis kaum bertakwa didekatkan dan majelis kaum zalim dijauhkan, kemudian kaum yang membawa beban berat diseru, ‘Berhenti!’? Apakah diriku diberhentikan bersama rombongan pembawa beban ringan?”

Al-Hasan kemudian menangis dan tidak sadarkan diri. Orang-orang di sekitarnya pun ikut menangis. Setelah beberapa saat ia kembali menyeru:

Wahai saudara-saudaraku, tidakkah kalian menangis karena takut neraka? Ketahuilah, Allah akan menyelematkan orang yang menangis karena takut neraka saat seluruh makhluk ditarik ke neraka dengan belenggu dan rantai.

Wahai saudara-saudaraku, tidakkah kalian menangis kerena rindu kepada Allah? Ketahuilah bahwa orang yang menangis karena rindu kepada Allah takkan terhalang untuk melihat-Nya nanti pada Hari Kiamat saat rahmat-Nya memuncak, ampunan-Nya menampak, serta murka-Nya kepada pendurhaka menghebat.

Wahai saudara-saudaraku, tidakkah kalian menangis atas petaka haus pada Hari Kiamat? Saat itu seluruh makhluk dikumpulkan dalam kondisi kehausan, sementara mereka tidak menemukan air kecuali telaga Nabi Muhammad saw. Sebagian orang boleh minum, tetapi sebagian lainnya terhalang. Orang-orang menangis atas petaka haus Hari Kiamat akan diberi minum oleh Allah Swt. dari mata air surga Firdaus.

Alangkah malangnya jika aku tidak dapat minum dari telaga.Nabi saw. ketika haus pada Hari Kiamat nanti.

Ia lalu menangis dan bertutur:

Demi Allah, suatu hari aku melewati seorang wanita yang beribadah dengan tekun. Ia bermunajat, “Wahai Tuhan, aku telah bosan hidup karena merindukan dan mengharapkan-Mu.”

Aku bertanya, “Wahai fulanah, apakah engkau yakin terhadap amalmu?” Ia menjawab, “Cintaku kepada-Nya dan hasratku untuk bertemu dengan-Nya membuatku lapang. Akankah Dia menyiksaku padahal aku mencintai-Nya?”

Tiba-tiba seorang anak kecil dari keluargaku, melintas. Segera anak itu kupegang, kupeluk dan kucium. Wanita itu bertanya, “Engkau mencintai anak ini?” “Ya,” jawabku.

Mendengar jawabanku, ia menangis serta berkata, “Seandainya seluruh manusia mengetahui apa yang akan dihadapinya esok, mereka tidak akan tenang dan tidak akan menikmati sedikitpun dunia ini.”

Sesaat kemudian, anak wanita itu, Dhaygham, datang. Si wanita bertanya, “Wahai Dhaughan, apakah menurutmu kita akan bertemu ataukah berpisah di padang mahsyar nanti?”

Anak tersebut langsung berteriak. Aku menyangka hatinya terluka dan sedih. Ia lalu jatuh pingsan. Si wanita menangisinya dan aku ikut menangis.

Saat si anak tersadar, wanita itu menangisinya, “Wahai Dhaygham!”

“Ya, ibu,” jawabnya.

Sang ibu kembali bertanya, “Megapa wahai anakku?”

Ia menjawab, “Untuk kembali kepada Zat yang lebih baik daripada dirimu, yaitu Tuhan Yang Maha Penyayang. Aku kembali kepada Zat yang memberiku makan dalam gelapnya kandunganmu dan mengeluarkanku dari sempitnya jalan keluar rahim.

Seandainya mau, Dia bisa saja mematikanku saat keluar dari sempitnya jalan lahir dan engkau pun mati kesakitan. Tetapi, dengan kasih sayang-Nya, Dia memberikan kemudahan untukku dan untukmu.

Tidakkah engkau mendengar firman Allah Swt., ‘Beritahulah hamba-hamba-Ku bahwa Aku-lah Sang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, serta bahwa siksa-Ku adalah siksa yang amat pedih.”


Si anak kemudian menangis dan berseru, “Celakalah aku jika tidak selamat dari siksa Allah.” Ia terus menangis hingga tak sadarkan diri dan jatuh ke tanah. Sang ibu mendekati dan memegangnya. Ternyata ia sudah mati.

Wanita itu sontak menangis dan berkata,”Wahai Dhaygham, wahai yang mati karena cinta kepada Allah.” Ia terus menangis dan meraung hingga jatuk ke tanah. Ku gerakkan tubuhnya, ternyata ia sudah meninggal. Semoga rahmat Allah Swt. senantiasa tercurah kepada keduanya dan kepada kita semua.

Ke artikel sebelumnya Ikatlah Jiwa dengan Kendali.