Mengikuti Jejak Rasulullah Bukti Keimanan

Mengikuti Jejak Rasulullah Bukti Keimanan
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada semua, yaiyu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidaka ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, Nabi yang Ummi beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS al-A’raf: 158)

Nabi Muhammad sudah diberitakan oleh Allah dalam Taurat dan Injil, tergambar dalam doa Nabi Musa dan jawaban Allah. Nabi Musa dan kaumnya berdoa kepada Allah agar diberi rahmat Allah, dan datanglah jawaban Allah, bahwa rahmat ditetapkan bagi orang yang beriman dan mengikuti Rasulullah saw.

Ayat ini menegaskan keharusan mengikuti jejak Rasulullah dalam segala hal. Hal ini sebagai konsekuensi iman kepada beliau, dalam menerima Islam yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah secara utuh, baik konten maupun metodologinya. Mengikuti Rasulullah saw dalam masalah tauhid dan iman serta implementasinya dalam kebenaran, hak dan batil, halal dan haram, tapi lembut dalam tutur kata dan sikap.

Nabi saw menceritakan bahwa ada yang mewasiatkan kepada anaknya, jika mati agar dibakar dan arangnya ditumbuk, kemudian dibuang ke laut. Beliau berkata, “Jika Allah mampu membangkitkannya, niscaya ia disiksa Allah. Tapi ketika ditanya oleh Allah kenapa engkau melakukan itu? Jawabannya karena takut terhadap siksaan Allah. Ternyata Allah mengampuni karena kebodohannya. Padahal orang tersebut ragu akan kekuasaan Allah dalam membangkitkannya.”

Ada seorang yang suka mabuk didatangkan kepada Nabi Muhammad saw, dan beliau memerintahkan untuk menghukumnya. Para sahabat langsung memukulnya dan setelah selesai ada yang berkata, “Semoga laknat Allah atasnya.” Mendengar itu Nabi Langsung bersabda, “Janganlah kalian tolong setan menjerumuskan saudara kalian. Janganlah kalian melaknatinya, sesungguhnya ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Di sini Rasulullah tegas dalam menegakkan hukum, juga tegas kepada para sahabat yang melampaui batas dengan melaknati sang pelaku. Beliau menunjukka kelembutan dan kasih sayangnya yang luar biasa. Dengan bijak beliau mengatakan bahwa pemabuk itu mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia perlu ditolong dalam melepaskan diri dari godaan setan sehingga berhenti mabuk. Bukan melaknatinya yang membuatnya kian tenggelam dalam kesesatan.

Kita harus mengikuti jejak Nabi saw yang memosikan diri sebagai dai mujahid, penegak syariah dari masalah kecil sampai besar seperti menegakkan akhlak dengan anak kecil. Ketika beliau duduk makan bersama putra tirinya Umar bin Salamah, beliau berkata, “Wahai ananda bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang didekatmu.” (HR Bukhari)

Meluruskan orang yang paling dicintai ketika melakukan kesalahan. Suatu ketika Aisyah menyindir Syafiyyah di hadapan Nabi dengan berujar, “Cukup bagimu bahwa dia demikian (pendek).” Nabi langsung menegur, “Wahai Aisyah, kalau omonganmu dipakai untuk mencampur lautan niscaya cukup (untuk campuran yang membusukkannya).” (HR Abu Dawud)

Mengikuti beliau dalam komitmen dengan perintah Allah walaupun harus menghadapi kemarahan sahabatnya. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw diperintahkan melakukan perjanjian dengan kafir Quraisy walaupun beliau sudah siap berperang. Beliau harus menerima isi perjanjian tersebut walaupun secara zahir merugikan kaum Muslimin, namun beliau yakin bahwa di balik itu pasti ada kebaikan dan kemenangan. Saat itu Umar marah-marah kepada Rasulullah. Namun beliau berkata, “Wahai Umar, saya hamba Allah dan tidak maksiat kepada-Nya.” Dan ternyata benar, dari Perjanjian Hudaibiyah diraih kemenangan yang gemilang dengan masuknya orang kafir ke dalam Islam dengan jumlah yang berlipat ganda dibandingkan sebelumnya.

Mengikuti beliau dalam menjadikan kelemahlembutan dalam muamalah sebagai metode dakwah yang efektif hingga beliau bergaul dengan tetangganya yang Yahudi. Ketika si Yahudi itu sakit, Nabi pun mengunjunginya dan mendakwahinya. Mengikuti Nabi sebagai pemimpin yang berusaha tidak melakukan kebijakan yang menzhalimi rakyat. Sifat lain Nabi sangat mulia, yaitu peduli terhadap umatnya. Beliau sangat sedih terhadap apa saja yang menyusahkan umatnya.

Mengikuti beliau menjadi bapak terbaik untuk putra-putrinya, suami terbaik untuk semua istrinya, menjadi guru dan Nabi terbaik untuk umatnya. Menjadi teladan terbaik dalam segala hal sebagai bukti kebaikan Islam dan manusia pun berduyun-duyun masuk Islam.

Penulis: DR M Mu’inudinillah Basri, MA
(Sabili NO. 16 TH. XVII 18 Rabiul Awal 1431)  


Komentar