Tafsir Surah Yaa Siin Ayat 1-4

Tafsir Surah Yaa Siin Ayat 1-4

Tafsir Surah Yaa Siin. Mengenai kata Yaa Siin terdapat lima pendapat. Sebagian ahli tafsir mengatakan, kata Yaa Siin berasal dari kata Yaa insaan (Wahai manusia!). Kebiasaan orang Arab suka mengambil satu huruf dari setiap kata, kemudian digabungkan. Mereka mengambil huruf ya dari yaa nidaa’ (ya yang dipakai untuk menyeru) dan huruf siin dari kata insaan, lalu kedua huruf tersebut disusun menjadi yaa siin. Dan yang dimaksud dengan manusia dalam ayat ini ialah “Yaa Muhammad saw. (Wahai Muhammad saw.)!”

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Yaa Siin adalah Yaa sayyidal mursaliin (Wahai pemimpin rasul-rasul!). Dan sebagian lainnya mengatakan, Yaa siin adalah salah satu dari nama-nama Alquran. Yang lainnya mengatakan, Yaa siin adalah salah satu nama dari nama-nama Allah swt. Yang lainnya lagi mengatakan, Yaa siin adalah nama surat.

Dalam tafsir Al-Istiraabaadzi disebutkan, “Sesungguhnya Allah swt. mempunyai empat ribu nama. Yang seribu nama tidak diketahui selain oleh para malaikat, seribu nama berada di Lauhil Mahfuzh, tiga ratus nama berada dalam Taurat, tiga ratus nama berada dalam Injil, tiga ratus nama berada dalam Zabur, dan seratus nama berada dalam Alquran – yang sembilan puluh sembilan tampak – namun yang satunya tersembunyi (samar) dan ia (disebut) Ismul A’zham yang tidak diketahui selain oleh para nabi dan para rasul.”

Makna shirath

Yang dimaksud dengan shirath (jalan) adalah Diinul Islaami (agama Islam), seperti pada perkataan, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari rasul-rasul, dan agamamu adalah agama yang benar (yaitu Islam), sedangkan orang-orang kafir memeluk agama yang salah.”

Hikmah sumpah pada ayat di atas adalah, “Allah bersumpah bahwa sesungguhnya Muhammad saw. (adalah) salah seorang dari rasul-rasul.”

Jika sumpah tersebut untuk (kemanfaatan) orang-orang kafir agar mereka membenarkan bahwa sesungguhnya Muhammad saw. adalah salah seorang dari rasul-rasul, maka mereka tetap tidak akan membenarkan. Jika sumpah ini untuk (kemanfaatan) orang-orang muslim agar mereka membenarkan bahwa sesungguhnya Muhammad saw. adalah salah seorang dari rasul-rasul, sesungguhnya mereka tetap membenarkannya sekalipun tanpa sumpah.

Dengan demikian, apakah hikmah sumpah ini? Jawabannya, sesungguhnya Allah swt. mengokohkan firman-Nya bagi orang-orang yang mengingkari karena sumpah itu salah satu jenis dari ta’kiid (pengokohan). Oleh karena itu, Allah swt. bersumpah dengannya untuk hujah (atas mereka). (Syekh Hamaamii Zaadah, dalam Tafsir Yaa siin)


Komentar