Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 284

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 284

Sungguh kepunyaan Allah-lah seluruh alam beserta segala isinya. Dia menciptakan dan memeliharanya, dan Dia mengetahui segala sesuatu yang terkandung di dalamnya, baik yang tampak maupun yang samar, baik yang zahir maupun yang bathin. Dia lah Allah yang maha mengetahui, termasuk apa yang dilahirkan dan apa yang disembunyikan dalam hati manusia. 
Allah SWT akan memperhitungkan segala niat kita atau apa yang terlintas di dalam hati, baik yang kita lahirkan (tampakkan) maupun yang kita sembunyikan. Tak ada sesuatu pun yang terlewatkan dari Allah Yang Maha Mengetahui. Hal tersebut sangat jelas diungkapkan dalam firman-Nya pada surah Albaqarah Ayat 284, berikut ini: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 
Tapi niat seperti apakah yang diperhitungkan oleh Allah SWT, Niat yang baik saja atau yang buruk saja kah dan apakah hal itu berlaku sama dalam masalah kebaikan dan keburukan, ataukah ada perbedaannya? Untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ini marilah kita perhatikan secara baik, apa yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengenai hal ini.  

Tafsir Ibnu Katsir: Tafsir Surah Al-Baqarah 284 
Allah SWT berfirman: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 
Allah Ta’ala memberitahukan, kepunyaan Dia-lah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia mengawasi segala perkara yang ada di sana. Tidak ada perkara yang nyata, yang samar, maupun yang tersembunyi yang tidak diketahui-Nya, meskipun perkara itu sangat halus dan tersembunyi. Allah juga memberitahukan, Dia akan menghisab hamba-hamba-Nya atas apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka.
 
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Tatkala ayat yang artinya ‘Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbutanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’ diturunkan kepada Rasulullaah SAW, hal itu sangat menyulitkan para sahabat beliau.

Mereka pun menemui Rasulullah, lalu berlutut seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, kami telah dibebani berbagai amal yang dapat kami kerjakan, seperti shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Sekarang ayat itu diturunkan kepada engkau dan kami tak sanggup mengamalkannya.’
 
Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh Ahli kitab terdahulu, yaitu, ‘Kami mendengar namun kami mendurhakainya’? Namun katakanlah oleh kalian, ‘Kami mendengar dan kami taati. Ampunilah kami, Ya Tuhan kami. Dan kepada Engkau-lah kami kembali’.”
Setelah mereka mengakuinya, Allah menurunkan ayat yang sesudahnya, yang artinya, “Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat,’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan Engkaulah tempat kembali.’
 
Setelah mereka mengamalkan ayat itu, Allah menasakh ayat tadi dengan ayat yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah... (dan seterusnya)’.” 

Muslim pun meriwayatkan hadits senada dari Abu Hurairah yang artinya, “Setelah mereka mengamalkan ayat itu, Allah menasakh ayat tadi dan Dia menurunkan ayat yang artinya, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kamu lupa atau kami tersalah.’
Allah berfirman, ‘Ya.’ 
‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.’  
Allah berfirman, ‘Ya.’ 
‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.’ 
Allah berfirman, ‘Ya.’ 
‘Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’ 
Allah berfirman, ‘Ya.’  

Dari Salim disebutkan bahwa suatu ketika ayahnya membaca ayat yang artinya, “Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu.”  Maka berlinanglah air matanya.
 
Apa yang dilakukannya itu sampai ke telinga Ibnu Abbas yang kemudian mengatakan, “Semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman. Ia telah melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah ketika ayat tersebut diturunkan. Lalu ayat itu dinasakh oleh ayat yang sesudahnya yang artinya, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’
 
Dalam Shahihain dari Abu Hurairah dikatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Jika hamba-Ku berniat melakukan keburukan, janganlah kalian (para malaikat) menuliskannya. Jika dia jadi melakukannya, tulislah sebagai satu keburukan. Dan jika dia berniat melakukan kebaikan, namun belum melakukannya, tulislah sebagai satu kebaikan. Jika dia jadi melakukannya, tuliskanlah sebagai sepuluh kebaikan’.”
 
Dalam hadits redaksi Muslim dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menuliskan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barang siapa berniat melakukan kebaikan tapi belum lagi melakukannya, Allah menuliskannya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berniat melakukan kebaikan lalu melakukannya , Allah menuliskan di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan, dan sampai berkali-kali lipat yang banyak. Dan jika dia berniat melakukan keburukan tapi tidak jadi melakukannya, Allah menuliskan di sisi-Nya sebagai satu kebaikan. Dan jika dia berniat melakukan keburukan lalu melakukannya, Allah menuliskan di sisi-Nya sebagai satu keburukan saja.”
 
Dikutip dari: Majalah Al-Kisah No. 08/19 April - 2 Mei 2010, dengan beberapa perubahan dalam kalimat.


Komentar