Persiapan Pra Nikah

Persiapan pra nikah untuk mencapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah
Persiapan Pra Nikah. Ada beberapa hal yang mesti dipersiapkan oleh para pemuda dan pemudi calon mempelai sebelum memasuki pernikahan untuk menuju kebahagian rumah tangga. Di antaranya, yakni: 

1. Kematangan Emosional
Kematangan emosional dimaksudkan untuk melihat dan menilai seseorang apakah ia telah mampu untuk berlepas dari ketergantungan kepada orang-orang yang selama ini menjadi tumpuan dalam hidupnya. Banyak kita jumpai sebuah rumah tangga (yang masih baru) dimana suami dan istri belum bisa mengikat diri dengan kuat. Sang istri merasa lebih terikat dengan kedua orang tuanya. Setiap ada persoalan rumah tangga selalu ia laporkan kepada orang tuanya, butuh apa saja meminta kepada orang tua, padahal semua itu belum ia usahakan untuk diselesaikan dengan suaminya. Demikian pula sang suami yang belum bisa bertanggung jawab penuh terhadap anak dan istrinya. sekedar urusan bayar listrik atau mengantar istri ke rumah sakit saja harus diantar oleh orang tua. Rumah tangga yang seperti itu masih harus disekolahkan kembali. Faktor utamanya adalah tidak adanya kematangan emosional serta belum memiliki kepribadian yang mandiri. Rumah tangga yang demikian agaknya cukup rawan, sehingga perlu mendapat bimbingan yang lebih matang. 

2. Kematangan Sosial
Gambarannya adalah seseorang yang mampu hidup bermasyarakat dengan sehat dan memuaskan. Seorang dikatakan telah matang sosialnya manakala ia mampu bersikap luwes dengan orang lain, baik kelebihannya maupun kekurangannya. Dengan demikian ia tidak menyulitkan dirinya dan orang lain. Buruknya mutu komunikasi antara suami dan istri sering ditandai adanya ketidak matangan sosial ini. Hingga timbul percekcokan hanya karena permasalahan yang sepele, padahal Allah memerintahkan agar pasangan suami istri itu bersabar terhadap hal-hal yang dirasa tidak disukainya dalam diri pasangannya. Itulah maksud dari pendidikan sosial antara suami dan istri. Berjiwa besar, itulah kira-kira gambaran kematangan sosial.

3. Kemandirian Sikap dan Prinsip
Inilah yang menjadi ciri, khas dan karekter seseorang muslim yang memiliki kematangan iman. Ia berkaitan erat dengan matangnya spiritual seseorang. Seorang mukmin amat yakin bahwa masalah jodoh, rizki, bahagia dan celaka semuanya berada di tangan Allah. Demikian pula dengan nasib dan masa depannya. Tugasnya hanyalah berikhtiar tanpa boleh memaksakan kehendak. Ia tidak akan kecewa dengan jodoh yang telah Allah berikan (setelah ia berusaha semaksimal mungkin), dan tidak akan mengeluh jika suatu saat tertimpa ujian dalam hidup berkeluarga. Seorang mukmin yang telah memiliki kemandirian dalam prinsip dan sikap tidak akan plin-plan dalam menentukan sebuah keputusan, tidak menjadikan pernikahan sebagai ajang percobaan, lalu membuat kamus cerai bila jodohnya dianggap tidak memuaskan. Namun kematangan sikap dan prinsip juga bukan berarti nekad atau maju terus pantang mundur, tanpa adanya perhitungan yang matang. Ketika menemui hambatan dalam proses pernikahannya lalu mengambil jalan pintas yang tidak Islami. Semuanya diterjang tanpa ada kesopanan dan budi pekerti mulai dari orang tua, mertua, sanak famili bahkan tokoh masyarakat sekitarnya. Yang jelas kematangan sikap dalam prinsip itu sangat tergantung dengan ketakwaan dan kedekatan seorang mukmin kepada Allah, karena buah dari takwa itulah yang akan membimbingnya menjadi seseorang yang berpendirian kuat. 

4. Kemandirian Finansial
Meskipun tidak berorientasi kepada sikap materialistik, namun kita juga harus realistis. Bahwa kebutuhan finansial dalam membangun sebuah rumah tangga juga menempati kedudukan yang urgen. Pendidikan anak dan peningkatan kualitas keilmuan sebuah keluarga tidak mungkin didapat dengan gratis begitu saja, terlebih di zaman sekarang yang semuanya hanya bisa berjalan lancar jika finansialnya lancar. Yang jelas hal itu tak mungkin kita raih hanya dengan modal "tawakal" yang tidak proposional. Bukankah tawakal itu sendiri tidak membiarkan unta itu lepas begitu saja, melainkan harus diikat terlebih dahulu? Demikian juga tawakal dalam persiapan menuju pernikahan, perlu adanya perhitungan dan perkiraan yang cermat serta matang dan realistis, bukan spekulasi an sich.  

Demikianlah hal-hal yang sangat perlu dilakukan pada setiap calon mempelai yang akan melangsungkan pernikahannya supaya dapat mencapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.(Mari baca juga : 5 Cara Membina Rumah Tangga)

Dari Agenda Sakinah
Kiat Membina Rumah Tangga Bahagia
Penyusun: Abu Fatiyah Al-Adnani


Komentar