Cara Memelihara Kehadiran Hati Dalam Shalat 2

Sambungan Cara Memelihara Kehadiran Hati Dalam Shalat

Sambungan Cara Memelihara Kehadiran Hati Dalam Shalat. Adapun sebab yang dari dalam, maka inilah yang sebenarnya lebih hebat pengaruhnya, sebab kita tentu memaklumi bahwa seseorang yang bercabang-cabang perhatiannya dalam persoalan-persoalan keduniaan, pastilah pikirannya itu tidak dapat dipusatkan untuk diarahkan kepada satu macam perhatian yang tertentu, tetapi akan terus menerus terbang dari satu sudut ke sudut yang lain. Oleh sebab itu jalan menolaknya ialah dengan melenyapkan pemikiran-pemikiran itu dari hati dan jiwa kita secara paksaan yakni dengan memahamkan apa-apa yang tersirat dalam bacaan shalat yang sedang dilakukan. Ini harus direnungkan benar-benar agar tidak terpengaruh pada hal-hal yang lain-lain. Hal yang sedemikian dapat ditolong oleh persiapan-persiapan yang dilakukan oleh seseorang itu sebelum sesaat untuk memulai bersembahyang dan senantiasa memperbaharui jiwanya untuk terus mengingat-ingat akhirat dan tempat bermunajat kepada Allah dan mengenangkan pula betapa peliknya berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, padahal Dia adalah Maha Memeriksa segala isi hatinya. Jadi sejak sebelum memulai shalat itu hatinya telah dikosongkan dari segala sesuatu yang dapat menggoda atau melengahkannya, sehingga jiwanya jangan diberi kesempatan untuk memperhatikan apa-apa yang terlintas dalam hatinya. (BACA ARTIKEL SEBELUMNYA : Cara Memelihara Kehadiran Hati Dalam Shalat)

Apabila dengan obat sebagaimana diuraikan di atas itu, kegelisahan dan kegoncangan jiwanya masih juga belum dapat tertolong, maka rasanya tidak ada penawar lagi yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan obat pembersih yang dapat menghentikan zatnya penyakit itu yang dari dasar-dasar urat dan syarafnya. Maka itu ia harus memperhatikan hal-hal yang dapat melengahkannya dari kehadiran hati tadi. Tentu saja yang dapat melengahkan tadi adalah perhatian-perhatiannya kepada yang lain dan perhatian-perhatian itu sudah pasti persoalan-persoalan kesyahwatan dan keduniaan semata-mata. Jikalau memang demikian, maka wajiblah seseorang itu mengutuk dirinya sendiri dengan menghindarkan jiwanya dari timbulnya kesyahwatan-kesyahwatan tadi serta melenyapkan hubungan-hubungannya dengan keduniaan itu diwaktu shalatnya.

Ada suatu riwayat yang menceritakan bahwa Nabi s.a.w. mengenakan selembar kain bersulam yang diberi oleh sahabatnya yang bernama Abu Jaham. Hal itu sebenarnya telah dimaklumi oleh beliau s.a.w. dan setelah selesai shalatnya lalu pakain itu dilepaskannya dan bersabda :

"Pergilah membawa pakaian yang ini kepada Abu Jaham, sebab yang ini dapat melengahkan jiwaku sewaktu shalatku tadi dan bawalah kemari kain polosnya Abu Jaham saja (yakni yang tidak bersulam)". Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.


Komentar