Muraqabah Dalam Islam

Muraqabah Dalam Islam - Di dalam buku Mau’izhatul Mukminin karya Al’alamah almarhum Asysyaikh Muhammad Jamaluddin Alqasimi Addimasyqi, dikatakan Muraqabah adalah pengawasan terhadap dzat yang menjaga dirinya dan menaruh perhatian yang sebesar-besarnya kepada-Nya itu.

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang sujud.” (Asy-Syu’ara : 218 – 219)

‘Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali Imran : 5)

Muraqabah artinya menjaga diri dari perbuatan yang dapat merusakkan dan merendahkan hati. Muraqabah bermakna keadaan dalam hati yang dibuahkan oleh semacam kem’rifatan (pengetahuan). Mengetahui benar-benar bahwa Allah Ta’ala Maha Memeriksa segala kehendak dan kemauan hati dan pula segala apa yang disembunyikan atau dirahasiakan.

Dengan mengetahui dan mengawasi adanya Dzat Yang Maha Mengetahui maka terjauhilah segala kemaksiatan dan terpeunuhilah muraqabah diri.

Mengawasi diri maknanya sama juga dengan mengawasi segala amalan, menjaga amalan dari perasaan riya’, pamer, ujub dan sombong. Melakukan amalan tiada lain hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah Swt. Melakukan amalan juga dengan cara-cara dan kaifiat yang sesuai dengan tuntunan Allah Swt dan Rasulullah saw. Supaya amalan tersebut berlangsung sepanjang yang diridhai oleh-Nya, sehingga terpenuhilah haknya Allah dari dirinya.

Ketahuilah muraqabah intinya menjaga diri dan mengawasi diri dari segala kemaksiatan, dari segala hal yang dapat merusakkan jiwa dan hati, dari segala hal yang dapat memalingkan diri dari Allah Swt.

Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda : “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusian dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)


Komentar