Pentingnya Pendidikan (Tarbiyah) Dalam Islam

Pentingnya Pendidikan (Tarbiyah) Dalam Islam


Pentingnya Pendidikan Islam - Sebuah renungan merosotnya pendidikan masa kini.

"Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan AL-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."                 ( QS. Ali 'Imran : 164 ).

Sebelum cahaya Islam datang, manusia tidak memiliki konsep hidup untuk dijadikan sebagai pegangan yang menerangi langkah hidup manusia.

Pentingnya Pendidikan (Tarbiyah) Dalam Islam

Masyarakat terjerat dalam segala macam kesesatan tanpa mereka sadar atau tahu apa yang sedang mereka lakukan itu menyimpang jauh dari nilai-nilai moral manusia.

Mereka hidup dalam kegelapan jahiliyah. Yang kuat berkuasa, yang lemah tertindas. Segala pemenuhan syahwat hawa nafsu dituruti.

Tidak ada aturan, tidak penting moral yang ada adalah kesenangan dan kelezatan hidup di dunia. Apa lagi mereka menganggap kehidupan hanya sekali dan tidak ada kehidupan lagi setelah mati.

Masyarakat jahiliyah hidup dalam kebodohan yang sangat, bodoh lantaran mereka selalu memperturutkan segala kesenangan hawa nafsu.

Mereka menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan sesembahan mereka.

Bentuknya mereka membuat berhala dan patung yang kemudian mereka sembah dan puja, lebih-lebih ketika mereka akan mengadakan berpergian, mereka terlebih dahulu harus meminta restu dari berhala dengan cara mengundi anak panah di depan tuhan mereka itu.

Bentuk lain dari kebodohan jahiliyah ini adalah mengubur anak-anak perempuan dalam keadaan hidup-hidup, lantaran kelahiran perempuan membawa aib yang sangat besar bagi mereka dan kabilahnya.

Diceritakan setiap wanita yang sedang akan melahirkan, dibuatkan lubang di bawahnya, jika yang lahir adalah anak perempuan, maka akan dibiarkan meluncur dan jatuh ke dalam lubang itu dan jika anak laki-laki maka akan disambut dengan ekpresi yang begitu gembiranya.

Kegiatan ekonomi dan perdagangan pada masyarakat jahiliyah adalah di dasari dengan riba dan riba. Hutang piutang yang mencekik dan memberatkan, sehingga kekayaan hanya menumpuk pada satu atau sekelompok orang saja, yaitu para pembesar-pembesar kabilah.

Kemungkinan inilah yang menyebabkan timbulnya perbudakan disamping peperangan-peperangan yang mereka lakukan.

Orang-orang jahiliyah selalu memutuskan segala pertentangan dengan jalan perang.

Antar kabilah menempuh jalan perang ini untuk menjaga pengaruh dan kehormatan mereka. Perang ini juga yang membuat mereka terpecah-pecah menjadi beberapa golongan yang merdeka.

Dalam keadaan sistem masyarakat yang sangat kacau inilah Rasulullah s.a.w. turun membawa misi untuk menerangi segala yang gelap tadi dengan nur iman yang benar dan sesuai dengan fitrah suci manusia.

Di sinilah letak ke-urgensi-an pendidikan dan pembinaan harus dilakukan.

Muhammad turun ke tengah-tengah masyarakatnya, setelah untuk beberapa waktu lamanya merenung dan melakukan tahannuts di gua Hira, untuk mendapatkan suatu petunjuk dalam memberangus kebodohan dan kebobrokan masyarakatnya.

Begitu kuat keinginan beliau untuk merubah cara pandang dan perilaku masyarakatnya yang sangat sesat, semakin sering dia melakukan tahannut di gua hira (ada yang mengatakan selama beliau melakukan tahannuts itu, beliau menggunakan syariat yang dibawa Nabi Ibrahim).

Muhammad dipersiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk mengemban amanat yang sangat agung dan berat.

Melepas ummat dari kegelapan menujua cahaya yang terang gemilang, bagaikan sinar surya menyirnakan gelapnya malam.

Melepaskan jerat kesesatan, kebodohan dan kejahilan mengarah ke masyarakat yang sebaik-baiknya (khairul ummah). Semua itu dilakukan oleh Rasulullah melalui tarbiyah yang di wahyukan oleh Allah pemilik segala kemulyaan dan keagungan.

Misi atau amanah yang diemban oleh Rasulullah saw tidak hanya terbatas pada masyarakatnya saja (Bangsa Arab), tetapi misi ini menyentuh semua manusia dan jin di mana saja mereka bertempat tinggal (bangsa ajam).

Amanah melalui jalur pendidikan dan pembinaan (tarbiyah) ini kemudian dipikul oleh para sahabat selepas Nabi wafat.

Selanjutnya diemban oleh para tabi’in, tabi’it tabi’in terus sampai para ulama dan pendidik di masa kita sekarang ini sesuai dengan beban dan tanggung jawab masing-masing.

Tarbiyah dalam Islam ini harus tetap berlanjut dari masa ke masa untuk membina dan membentuk masyarakat yang baik dan berakhlak mulia, paling tidak – jangan sampai melenceng dari undang-undang yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Tarbiyah harus tetap diperlakukan sebagai suatu misi penting yang wajib dilakukan yang sifatnya mendesak. Apalagi manusia tempatnya lupa dan khilaf dan juga lemah, mudah tergoda oleh godaan dunia dan hawa nafsu.

Jadi melalui tarbiyah manusia harus tetap selalu diingatkan supaya tidak melenceng dari nilai-nilai fitrahnya sebagai makhluk yang paling baik di sisi Allah SWT.

Baca juga Peranan Keluarga dalam Penanggulangan Krisis Akhlak.