Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?

Siapakah Para Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang beliau riwayatkan dari Allah Azza wa Jalla yang berfirman,

من عادى لى وليا فقد اذنته بااحرب, وما تقرب الي عبدي بشيء احب الي
مماافترضته عليه, وما يزال عبدى يتقرب الي بالنوافل حتى احبه, فءذا
 أحبته كنت سمعه الذي يبصر به, ويده التي يبطش بها, ورجله التي يمشي
بها, وان سألني لأعطينه, و لءن استعاذني لأعيذنه

(Man ‘aadaa lii wa liyyan faqod aadzantuhu bilharbi, wa maa taqorraba ilaiya ‘abdii bisyai-in ahabba ilaiya mimmaftaradhtuhu ‘alaihi, wa maa yazaalu ‘abdii yataqorrabu ilaiya binnawaafili hattaa uhibbahu, faidzaa ahbabtuhu kuntu syam’ahulladzii yasma’u bihi, wa basharahulladzi yubshiru bihi, wayadahullatii yabthisyu bihaa, wa rijlahullatii yamsyii bihaa, wa in sa-alanii la’ukthiyannahu, wa la-inista’adzanii la-u’iidzannahu).

Artinya: “Siapa memusuhi wali-Ku, Aku mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.  Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku  dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya dimana ia mendengar dengannya, Aku menjadi matanya dimana ia melihat dengannya, Aku menjadi tangannya dimana ia bertindak dengannya, dan Aku menjadi kakinya dimana ia berjalan dengannya. Jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, Aku pasti memberi permitaannya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Hadis Qudsi di atas menyatakan kepada kita keutamaan wali Allah di sisi-Nya dan di sisi manusia. Bahwa kita tidak boleh membenci dan memusuhi wali-wali Allah tersebut. Siapa yang membenci mereka maka Allah dan Rasul-Nya akan membenci orang-orang yang membenci itu.

Bahkan dikatakan, siapa membenci wali-wali Allah maka amal ibadah yang dilakukannya itu tidak bermakna di mata Allah Azza wa Jalla. Maka barangsiapa yang ibadahnya mau diterima oleh Allah dan mendapat cinta-Nya maka hilangkanlah semua kebencian dan ketidaksenangan dari dalam hati terhadap para wali Allah itu.

Mereka (para wali) diberikan keutamaan seperti itu, karena kecintaan mereka dan semangat mereka malakukan segala amal ibadah kepada-Nya, dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan (baik yang wajib maupun sunnah) dan menjauhi semua yang dilarang-Nya, sehingga Allah mencintai mereka dan memberikan mereka karomah-karomah yang tidak diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang lain.

Siapakah wali-wali Allah itu?

Setiap orang mukmin dan bertakwa adalah wali Allah Ta’ala, hanya saja tingkatan mereka berbeda tergantung kepada ketakwaan mereka, dan keimanan mereka. Siapa saja yang iman, dan ketakwaannya sempurna, maka kedudukannya di sisi Allah Tinggi, dan karomahnya lengkap.

Pemimpin para wali adalah para rasul, dan para nabi, dan sesudah mereka adalah kaum mukminin.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Yunus ayat 62 sampai 64 sebagai berikut:


Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Dalam QS. Ali Imran ayat 37, Allah Ta’ala berfirman:


Siapa Sajakah Wali Allah itu dan Keutamaan Mereka?


“Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah’.”

Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadis-hadis serta berita-berita yang beredar di kalangan umat Islam yang memberitakan tentang keberadaan dan keutamaan para wali Allah ini beserta karomah-karomah yang dianugerahkan Allah kepada mereka.

Karena itu sebagai Muslim harus beriman bahwa Allah Ta’ala mempunyai wali-wali dari hamba-hamba-Nya yang Dia pilih untuk beribadah kepada-Nya, menjadikan mereka taat kepada-Nya, memuliakan mereka dengan memberikan cinta-Nya kepada mereka, dan memberikan karomah-karomah-Nya kepada mereka.

Mari kita mencintai para wali Allah dan para ulama yang benar (bukan ulama setan), jauhkanlah prasangka buruk kepada mereka dan kalau ada yang tidak disukai hilangkanlah kebencian itu dari dalam hati, kemudian tancapkanlah dalam hati kecintaan kepada mereka, karena Allah dan Rasul pun mencintai dan membanggakan mereka. 

Ingatlah kebencian kepada mereka itu dapat menjadi sebab semua ibadah yang kita lakukan tidak diterima oleh Allah. Bukankah Allah akan memerangi mereka yang membenci wali dan ulama-Nya.

Kemudian supaya kita juga mendapatkan cinta dari Allah, mari kita amalkan hadis qudsi di atas. Lakasanakan semua kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan oleh agama dengan sebaik-baiknya. Seperti shalat fardlu lima waktu, puasa ramadhan, menunaikan najar dan sumpah yang telah kita ucapkan dan segala amal ibadah yang menjadi sebab tertentu menjadi ibadah wajib.

Tapi kita harus sadar ibadah wajib ini tidak cukup untuk mendapatkan cinta dari Allah, sebab ibadah wajib atau fardlu merupakan kewajiban yang dipaksakan oleh agama dan harus kita jalankan. Karena itu Allah masih hanya mencintai sebatas ibadah yang kita lakukan.

Untuk mendapatkan cinta dari Allah secara sempurna, maka kita harus banyak dan terus menerus mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan ibadah-ibadah sunnah (setelah menyelesaikan yang fardlu) hingga Allah menganugerahkan cinta-Nya kepada kita. 

Ibadah sunnah itu banyak seperti shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, bersedekah dan masih banyak lagi.

Baca HIKMAH SHALAT SUNNAH


Untuk bisa melaksanakan semua itu, Hanya kepada Allah jualah kita memohon pertolongan dan kemantapan hati. Semoga Allah Yang Mahapenyayang dan Mahapengasih memberikan pertolongan dan menancapkan himmah atau ketetapan hati yang kuat kepada kita untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.