Abu Hurairah, Sahabat Nabi Jenius Penghafal Hadis

Abu Hurairah, Sahabat Nabi Jenius Penghafal Hadis


Abu Hurairah merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw yang terkenal kejeniusannya. Keutamaan Abu Hurairah adalah daya ingat dan hafalan beliau yang luar biasa. Apa yang didengarkan olehnya akan langsung terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya.
Abu Hurairah, Sahabat Nabi Jenius Penghafal Hadis

Hampir tidak ada satu kata atau satu huruf pun yang terlupakan dari apa yang telah dihafalkannya. Meskipun usia beliau terus menua.

Abu Hurairah ini adalah salah sorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi.
Tentang dirinya, Abu Hurairah r.a pernah berkata:

“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku !
Akulah yang melayani keluarga itu apabila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya saat sedang berpergian.

Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan umat.”

Di kalangan sahabat, Abu Hurairah r.a termasuk salah seorang sahabat yang belakangan masuk Islam.

Semenjak beliau memeluk Islam, Abu Hurairah selalu menyertai Rasul dan menghadiri majlis-majlis beliau. Sehingga pemahamannya tentang agama Allah ini semakin luas dan mendalam.

Karenanya Nabi pun pernah berdoa untuk keberkatan ilmunya itu. Banyak sekali hadis Nabi yang dihafal dan diriwayatkan oleh beliau. Bahkan para ahli hadis setelah generasi beliau kemudian banyak yang merawikan hadis-hadisnya.

Karena semangat dan tekadnya yang sangat kuat untuk selalu menyertai Nabi beliau pernah mengalami kelaparan yang sangat melilit perutnya. Untuk mengurangi rasa sakit itu, Abu Hurairah mengganjal perutnya dengan batu yang diikat dengan sorban ke perutnya dan ditekan ke ulu hatinya dengan kedua tangan. Karena tidak tahan sakitnya lalu terjatuhlah dia sambil menggeliat-geliat sehingga sebagian dari sahabat menyangka dia terserang ayan.
Sepeninggal Nabi, Abu Hurairah terus menerus menyampaikan hadis-hadis Nabi yang telah didengar, dihafalkan dan dipahami beliau kepada ummat Islam.

Ketika sempat diragukan dan dicurigai oleh para sahabatnya karena terlalu banyaknya hadis yang disampaikannya. Abu Hurairah pun kemudian berkata untuk menghapus keragu-raguan ini.

“Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadis dari Nabi saw. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan hadis-hadis itu ?

Ketahuilah, bahwa sahabat-sahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang sahabat-sahabatku orang-orang Anshar sibuk dengan tanah pertanian mereka.

Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan.

Dan Nabi saw. pernah bersabda kepada kami di suatu hari, sabda beliau:

‘Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarnya dari padaku.’

Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah aku dengar dari padanya.

Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) !”

Demikianlah jawaban yang dikatakan oleh Abu Hurairah r.a. kepada orang-orang yang telah meragukannya sekaligus menjelaskan bagi kita apa sebabnya beliau yang paling banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw.

Abu Hurairoh merasakan pada dirinya orang yang bertanggungjawab untuk menyebarluaskan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Ia merasa kalau tidak dilakukan berarti ia menyembunyikan kebaikan dan yang haq (benar), dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman atas kelalainnya.

Sayyidina Umar ibn Alkhattab r.a, Khalifah kedua setelah sayyidina Abu Bakar r.a, pernah melarangnya dengan mengatakan:

“Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka akan aku kembalikan kau ke tanah Daus!” (Tanah Daus yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Larangan Amirul Mukminin ini, bukanlah berlandaskan tuduhan, hanya sebagai pengukuhan atas pandangan yang dianut oleh beliau (sayyidina Umar r.a), yaitu agar umat Muslimin pada jangka waktu tersebut (zaman sahabat) tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Alquran sampai melekat dan menetap dalam hati sanubari dan pikiran.

Amirul Mukminin Umar ibn Khattab mengkhawatirkan terjadinya kesimpangsiuran dan bercampur aduknya antara Al-Quran dan Hadis, jika terlalu banyak cerita tentang Rasulullah disampaikan. Apa lagi pada waktu itu masa-masa penghimpunan Al-quran yang harus dilakukan dengan cermat.

Umar pernah berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan Al-quran karena dia adalah kalam Allah.”

Dan katanya lagi, “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!” 

Abu Hurairah menghargai pandangan Khalifah Umar, tetapi ia memiliki komitmen dari pandangan dan keyakinannya dan teguh memenuhi amanat, sehingga ia tidak ada niatan untuk menyembunyikan dari hadis dan ilmu yang dimilikinya.

Ia berkeyakinan menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan. Karena itulah beliau tetap menyampaikan hadis setiap kali ada kesempatan.

Namun seiring dengan perjalanan waktu sebagai penyampai hadis terdapat ganjalan yang membikin beliau selalu risau.

Apakah yang merisaukan hati Abu Hurairah itu?

Adalah Ka’ab al-ahbar, seorang Yahudi yang masuk Islam yang menjadi penyebab.

Ka’ab sering menambah-nambah dan melebih-lebihkan hadis yang didengar dari Abu Hurairah, sehingga para sahabat yang mendengar tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari hadis-hadisnya.

Tentang kekuatan hafalan Abu Hurairah ini pernah diuji oleh Khalifah Marwan bin Hakam.
Pada suatu hari khalifah memanggilnya dan dibawanya dudk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadis-hadis dari Rasulullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balki dinding.

Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairoh kembali dan dimintanya membacakan lagi hadis-hadis yang dulu itu yang telah ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun.

Ia berkata tentang dirinya: “Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal hadis dari padaku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak.”

Imam Syafi’i dan Imam Bukhari pernah mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah.

Imam Syafi’i rhm berkata: “Ia (Abu Hurairah) seorang paling banyak hafal di antara seluruh perawi hadis sesamanya.”

Sementara Imam Bukhari mengatakan, “Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah.”

Mengenai dirinya dan keluarganya, Abu Hurairah adalah seorang ahli ibadah, beliau selalu melakukan ibadah bersama isterinya dan anak-anaknya semala-semalaman secara bergiliran.

Mula-mula ia berjaga sambil salat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya.

Dengan demikian tidak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir, dan salat.

Ya, beliau, memang seorang ahli Ibadah dan seorang mujahid, dan juga sejak memeluk Islam tak pernah ketinggalan dalam perang membela agama Allah.

Mengenai keadaannya dan ibunya, Abu Hurairah pernah berkisah. Kira-kira begini penuturannya:

“Tidak ada satu masalah pun yang memberatkanku sampai membuatku tidak bisa memejamkan mata pada malam harinya, kecuali masalah mengenai ibuku.

Ibuku waktu itu selalu menolak untuk masuk Islam bahkan dia melontarkan kata-kata jelek dihadapanku mengenai Rasulullah yang menyakitkan perasaanku.

Pada suatu hari ibu kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan itu, hingga aku tidak dapat menahan tangis karena sangat sedih.

Lalu aku pergi ke masjid Rasul. Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah. Lalu kataku:

“Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk Islam, tapi ajakanku itu ditolaknya. Dan hari ini aku pun baru saja memintanya masuk Islam.

Sebagai jawabanya ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri anda. Karenanya mohon anda doakan kepada Allah agar ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam.

Maka Rasulullah saw. berdoa: ‘Ya Allah tunjukkilah ibu Abu Hurairah!’

Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang do’a Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran bunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: ‘Hai Abu Hurairah, tunggulah di tempatmu itu!’

Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan membalutkan selendangnya sambil mengucapkan: ‘Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh.’

Aku pun segera berlari menemui Rasulullah saw. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka dan kataku kepadanya:

Ku sampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabulkan doa anda. Allah telah menunjuki ibuku ke dalam Islam.

Kemudian kataku pula: Ya Rasulullah, mohon doakan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan!

Maka Rasulullah berdoa: Ya Allah, mohon engkau jadikan hamba-Mu ini beserta ibunya dikasihi oleh sekalian orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan.”

Demikianlah cerita Abu Hurairah dan ibunya yang sampai kepada kita.

Di pemerintahan, Abu Hurairah pernah di angkat sebagai amir Bahrain oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Adapun khalifah Umar seperti diketahui oleh kalangan luas, seorang pemimpin yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya.

Apabila ia mengangkat seseorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mempunyai dua pasang pakaian juga. Malah lebih utama ia hanya memiliki satu pasang saja!

Jika ada seorang yang berhenti dari jabatannya memiliki kekayaan lebih dari sebelum menjabat, maka orang itu tidak akan luput dari interogasi sayyidina Umar, sekalipun kekayaan itu bersumber dari jalan halal yang dibolehkan syara’.

Keadaan yang demikian ini pula yang dialami oleh Abu Hurairah ra.

Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain, ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal.

Hal ini diketahui oleh Umar, maka ia pun  dipanggilnya datang ke Madinah. Maka datanglah beliau menemui Umar.

Kata Umar : “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?”

Abu Hurairah menjawab: “Aku bukan musuh Allah dan tidak pula musuh kitab-Nya. Hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah!”

Kata Umar: “Darimana kamu peroleh sepuluh ribu itu?”

Anu Hurairah: “Kuda kepunyaanku beranak pinak dan pemberian orang berdatangan.”

Tegas Umar : “Kembalikan harta itu ke pembendaharaan negara (baitul maal) !

Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada sayyidina Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin!”

Tak lama setelah itu, Umar memanggil Abu Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tetapi beliau menolaknya dan dimintanya maaf karena tidak dapat menerima tawaran itu.

Lalu Sayyidina Umar bertanya kepadanya: “Kenapa kau tidak mau menerimanya, dan apa sebabnya?”

Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul! Jawabnya.

Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasihan, kata Abu Hurairan lagi.

Abu Hurairah, meninggal pada tahun 59 H dalam usia 78 tahun. Pada waktu beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau berpulang ke Rahmatullah. Ia berulang-ulang memohon kepada Allah dengan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah rindu hendak bertemu dengan Mu, semoga Engkau pun demikan.”

Kemudian ia di makamkan di perkuburan Baqi’ Madinah, di tempat yang beroleh berkah dari Allah Yang Maha Pemberi Berkah.


Itulah sekelumit tentang jati diri Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Yang namanya waktu zaman jahiliyah bernama Abdu Syamsi, kemudian setelah memeluk Islam, namanya diganti oleh Rasulullah dengan nama Abdurrahman.


Dan karena kecintaan dan rasa sayangnya pada binatang terutama kucing, kemudian beliau digelari "Bapak Kucing"  alias Abu Hurairah dan nama gelarnya ini melekat sepanjang zaman.

Baca juga kisah Mus'ab bin Umair.

Bagaimana apakah kisah Abu Hurairah, Sahabat Nabi Jenius Penghafal Hadis di atas menarik. Simak terus kisah-kisah lainnya di blog ini.