KISAH BANJIR BESAR DI MASA NABI NUH AS

Kisah Banjir Besar Di Masa Nabi Nuh as. Mungkin tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak tahu tentang kisah banjir besar di masa Nabi Nuh as ini, setidak-tidaknya pasti pernah mendengarnya, karena di setiap kitab agama samawi cerita banjir Nabi Nuh ini dikisahkan. Tapi bagaimana pun kisah ini merupakan kisah yang selalu menarik untuk dibicarakan karena alasan inilah admin mempostingnya.

KISAH BANJIR BESAR DI MASA NABI NUH AS

Lama Dakwah Nabi Nuh kepada Kaumnya


Nabi Nuh as, adalah nabi Allah yang paling panjang usianya. Beliau berdakwah selama 950 tahun. Mengenai hal ini telah disitir dalam Kitab Allah Al-Qur'anul Karim, Surat Al-'Ankabut : 14 yang berbunyi :

"Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh pada kaumnya, maka ia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim."

Disebutkan oleh para sejarawan, Nabi Nuh merupakan permulaan para rasul yang dituntut untuk mendakwahkan apa yang diperintah Allah SWT. Menyerukan keimanan hanya kepada Allah semata, yang tidak ada kesyirikan sedikit pun di dalamnya.
Telah disebutkan pula oleh para sejarawan, karena Nabi Nuh memiliki usia yang paling panjang di kalangan para nabi, maka beliau merupakan nabi dan rasul yang banyak menanggung penderitaan yang tak pernah di alami atau ditanggung seorang pun dari para nabi.

Pembangkangan dan Membatunya Hati Masyarakat terhadap Seruan Nabi Nuh


Nabi Nuh menyeru kaumnya selama 950 tahun dengan penuh kebijaksanaan dan tutur kata yang bagus, Namun justeru kaumnya tidak mengacuhkannya dan mendustakannya. Mereka berpaling sambil mengejek beliau. Hati masyarakatnya keras bagaikan batu, dan akal mereka membakar laksana besi membara. Mereka tidak beriman kecuali hanya sedikit sekali.

"Dan tiada yang beriman kepadanya melainkan sedikit." (QS. Hud : 40)

Walaupun demikian keras hati masyarakatnya, Nabi Nuh terus berulang-ulang menyeru mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala, dan hanya menyembah dan mentaati Allah Ta'ala semata-mata. Beliau juga mengingatkan kepada mereka tentang ancaman Allah bagi mereka yang ingkar. Tapi, mereka masih saja menolak dan terus menyekutukan Allah. Tentang keadaan ini, telah diabadikan oleh Allah dalam Qur'an.

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepad-Nya)?". Maka pemuka-pemuka orang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanya seorang manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku". (Al-Mukminun : 23-26)

Mereka mengitimidasi Nabi Nuh, Pemuka masyarakat di sekitar Nabi Allah tersebut berusaha menuduh bahwa Nabi Nuh telah berusaha untuk menunjukkan superioritasnya atas masyarakat lingkungannya, mencari keuntungan pribadi seperti status sosial, kepemimpinan dan kekayaan.

Karena itulah, Allah menyampaikan pada Rasulullah Nuh bahwa mereka yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan ditenggelamkan, dan mereka yang beriman akan diselamatkan.

Hukuman Allah Kepada Kaum Nabi Nuh Yang Ingkar.


Kecongkakan dan pembangkangan kaum Nabi Nuh semakin menjadi-jadi dan tambah berani, bahkan mereka menantang rasul Allah itu supaya didatangkan azab Allah kepada mereka.

Berkata mereka, Hai Nuh! Sesungguhnya engkau telah berbantah dengan kami, berbantah lama dengan seringkali : maka datangkanlah siksa yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika memang engkau termasuk orang-orang yang benar (QS. Hud : 32)

Dibalik kesabaran Nabi Nuh yang kokoh laksana gunung itu, setelah dari generasi ke generasi tetap mendustakannya, dengan penuh kerendahan hati berdoa kepada Allah.

Dan Nuh berkata, "Hai Tuhan-ku, janganlah Engkau membiarkan di atas bumi ini seorang penghunipun dari antara orang-orang kafir itu. Sebab, jika Engkau membiarkan juga mereka hanya akan menyesatkan hamba-hamba Engkau dan mereka tidak melahirkan melainkan orang-orang berdosa dan orang-orang kafir." (QS. Nuh : 26-27)

Dan telah diwahyukan kepada Nuh, "Bahwa sekali-kali tidak akan beriman seorangpun dari kaumnya selain orang yang telah beriman sebelumnya; Maka janganlah engkau berduka cita mengenai apa yang selama ini mereka kerjakan." (QS. Hud : 36)

Kemudian Allah SWT, memerintahkan kepada rasul-Nya, Nabi Nuh as, untuk membuat bahtera yang akan dinaiki bersama para pengikutnya dari kalangan orang-orang yang telah beriman, dan dari berbagai jenis binatang yang berpasangan.

"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan." (QS. Hud : 37)

Maka Nuh bersama pengikutnya melaksanakan perintah Allah tersebut. Tatkala kaumnya yang ingkar tersebut melihat apa yang sedang diperbuat oleh Nabi Nuh dan pengikutnya, sontak mereka mengejek dan mentertawakan, dengan cara yang menghina sekali.

Ejekan demi ejekan itu diterima oleh Nabi Nuh dengan tenang dan lapang dada, sambil terus melanjutkan pembuatan kapal atau bahtera tersebut sesuai dengan diwahyukan Allah. Nuh berkata sebagaimana telah dilukiskan Allah di dalam kitab suci yang mulia Al-Qur'an, Firman-Nya :

"Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)."  (QS. Hud : 38)

Akhirnya pembuatan kapal tersebut selesai dengan sempurna. Lalu Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman segera menaiki kapal, dan juga tidak lupa diperintahkan pula untuk diturut sertakan berbagai jenis binatang secara berpasang-pasangan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian binatang.

"Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur (permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit." (QS. Hud : 40)

Setelah semua menumpang ke bahtera sesuai dengan yang dikehendaki Allah, maka turunlah air hujan yang sangat lebat sekali dan langit terlihat gelap, bumi dengan mata air memancarkan air dengan sangat derasnya, sehingga dari celah-celah bumi dan dari sudut-sudut jurang rata digenangi air yang bergelombang bagaikan gelombang samudera yang dahsyat. Nabi Nuh berdoa :

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." (QS. Al-Qomar : 10)

Air hujan terus turun dengan lebatnya, mata air pun keluar dengan derasnya, disertai dengan tiupan angin yang amat dahsyatnya gelombang mengamuk tak mengenal ampun, air menyembur dan saling bertemu dengan mata air yang datang dari celah-celah bumi dari segala penjuru.

"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS. Al-Qomar : 11-12)

Akhirnya semua orang kafir itu, tidak ada satu pun yang tersisa, semua tenggelam dan musnah, tidak terkecuali anak Nabi Nuh yang bernama Kan'an. Karena dia lebih memilih menjadi orang yang ingkar. Laknat Allah tetap berlaku kepadanya, walaupun Nabi Nuh telah memohon kepada Allah supaya anaknya itu diselamatkan juga, ketetapan Allah tetap berlaku.

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya."  (QS. Hud : 45)

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS. Hud : 46)

Setelah sekian lama (kurang lebih 150 hari) terjadi banjir besar melanda bumi, maka kapal atau bahtera Nabi Nuh as berlabuh di atas gunung Al-Judi. Gunung Al-Judi adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia. Allah berfirman :

Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (QS. Hud : 48)

Ada dikatakan, disaat kapal Nabi Nuh berlabuh dan ketika para anak kapal keluar dan turun dari kapal dengan selamat sentosa, ketika itu tanggal 10 Muharram, lalu Nabi Nuh as dan pengikutnya melakukan puasa sebagai tanda syukur ke hadirat Allah SWT. Maka bagi kita umat Islam disunatkan berpuasa sehari tanggal sepuluh bulan Muharram.

Demikianlah akhir dari kisah banjir besar di masa Nabi Nuh as yang admin petik dari berbagai sumber, lalu kami padukan sehingga, mudah-mudahan enak untuk dibaca dan mudah untuk dihayati, sehingga menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.

 

 

 
 


 


Komentar