HAKIKAT TAUBAT DAN BATAS-BATASNYA

Hakikat Taubat dan Batas-batasnya. Harap diketahui taubat itu suatu pengertian yang tersusun dari tiga perkara, yaitu ilmu, keadaan, dan perbuatan. Ilmu menjadi penyebab timbulnya keadaan, dan keadaan penyebab timbunlnya perbuatan, semuanya yang mendorong kepada kebiasaan menuruti sunnatullah dalam alam kerajaan dan sunnahnya malaikat.

Adapun yang dimaksud dengan ilmu, yaitu: 1) pengetahuan tentang besarnya bahaya dosa, 2) sebab-sebab yang menjadi tirai/hijab antara seorang hamba dengan yang dicintainya. Jika hal demikian telah diketahui dengan seyakin-yakinnya, maka karenanya timbullah kesedihan dalam hati, disebabkan hati merasa terpisah dengan yang dicintainya.

Hati jika merasa terpisah dengan yang dicintainya, ia merasa sedih. Jika terpisahnya itu akibat perbuatannya sendiri maka ia menyesali perbuatannya itu; kesedihan semacam ini dinamakan penyesalan.

Jika kesedihan itu telah menguasai hati maka didalam hati timbullah dorongan yang lain disebut iradah dan yang disengaja ingin berbuat sesuatu. Yaitu perbuatan yang berhubungan dengan: 1) keadaan waktu itu, 2) waktu yang lewat, dan 3) yang akan datang.

Adapun yang berhubungan dengan: 1) keadaan waktu itu, yaitu meninggalkan dosa yang tengah dialami. Yang berhubungan dengan: 3) waktu yang akan datang, yaitu sengaja meninggalkan dosa (apa saja) yang bisa menjauhkannya dari apa yang dicintainya, selama hidup. Adapun yang berhubungan dengan 2) waktu dahulu, yaitu mengajar yang hilang dengan menambah yang kurang.

Dalam menambah yang kurang ini, pertama harus ada ilmu, sebab ilmulah yang mengajari kebaikan. Yang kami maksudkan dengan ilmu ini yaitu iman dan yakin. Iman yaitu suatu pengertian yang membenarkan bahwa dosa adalah suatu hal yang merusakkan, sedangkan yakin itu suatu pengertian yang menguatkan pembenaran tersebut dan yang menghilangkan keraguan-raguan. Jika yakin telah menguasai hati, maka timbullah cahaya iman itu.

Jikalau dalam hati itu timbul cahaya penyesalan, maka sedihlah ia karenanya, sebab dengan sorotan cahaya iman itu ia mengetahui bahwa dirinya terhijab dari yang dicintainya. Seperti halnya orang yang berada di tempat gelap kemudian disinari oleh cahaya matahari dan cahaya itu menembus kabut serta mengungkap tirai/hijab, kemudian ia melihat yang dicintai dan menyadari bahwa dirinya berada di ambang kebinasaan, maka menyalalah api cinta di hatinya. Api itu makin berkobar-kobar dengan timbulnya iradah (hasrat) untuk bangun dan mencapainya.

Maka ketiga-tiganya ilmu menyesal dan hasrat yang berhubungan dengan meninggalkan pekerjaan waktu itu dan waktu akan datang, serta mengejar kekurangan masa lampau, adalah tiga arti yang berturut-turut (yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya). Maka nama taubat itu umum untuk ketiga makna di atas dalam arti satu. Tapi banyak yang mengartikannya atas penyesalan saja, dan ilmu dianggap sebagi pendahuluannya sedang meninggalkan perbuatan itu sebagai akibatnya.

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:
"Penyesalan itu adalah taubat."

Karena suatu penyesalan itu tidak lepas dari ilmu yang mengakibatkannya maka penyesalan di atas disederhanakan dari kedua rangkainya, yaitu penyebab dan akibatnya.

Dengan pengertian ini, ada yang mengatakan bahwa ketentuan taubat itu lumer (mencair)ya keburukan-keburukan akibat kesalahan-kesalahan sebelumnya. Ini seolah-olah ditujukan kepada kesedihan hati semata.

Adapula yang mengatakan bahwa taubat itu api yang menyala-nyala di hati dan suatu bagian di hati yang tidak terpisah-pisah. Dari segi arti meninggalkan pekerjaan, ada yang mengatakaan bahwa ketentuan taubat itu ialah melepaskan pakaian yang bisa menjauhkan dari Allah dan membentangkan permadani yang mendekatkan kepada Allah.

Sahal at-Tasturi mengatakan bahwa taubat itu ialah mengganti gerakan-gerakan yang tercela dengan gerakan-gerakan yang terpuji, yang hal demikian tidak akan sempurna kalau tidak dengan bersunyi diri, berdiam dan memakan yang halal. Ini seolah-olah ditujukan kepada arti taubat yang ketiga.

Pendapat-pendapat tentang ketentuan taubat, tidak terhitung banyaknya. Tetapi jika tuan memahami tiga arti di atas dan hubungan-hubungan serta urutan-urutannya, tuan ketahui ketahui bahwa semua ketentuan-ketentuan taubat yang dikatakan itu terbatas dalam lingkungan ketiga artinya. Mendalami ilmu dengan menyelidiki hakikat perkara, adalah lebih baik daripada mengumpulkan kata-kata mereka (Taubat, Imam Gazali)

Berikutnya baca: PENGERTIAN FAAHISYAH MENURUT AHLI


Komentar