'Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Shaffar bercerita

'Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Shaffar bercerita, "suatu malam aku mendatangi Aswad ibn Salim. Kudapati dia sedang menangis dan berulang-ulang melantunkan dua bait syair:

Kelak aku berada d ihadapan Tuhan
Yang menanyaiku dan menyingkap segala
Cukuplah aku melintasi jembatan mata pedang dengan api
Berkobar-kobar di bawahnya.

Tiba-tiba ia berteriak dan pingsan sampai subuh."

Diceritakan bahwa al-Dhahhak ibn Muzahim bertutur:

Suatu malamaku pergi ke masjid Kuffah. Aku melihat seorang pemuda yang bersujud seraya menangis di halaman masjid. Aku yakin, ia seorang wali Allah. Aku pun mendekatinya. Kudengar ia berucap:

Kepada-Mu, wahai Zat Yang Mahaagung, aku bersandar
Berbagialah manusia yang bertuhankan Engkau
Berbahagialah orang yang melewati malam dengan
tangisan mengadukan musibahnya kepada Zat Yang Mahabesar
Tidak ada rasa sakit dan derita pada dirinya kecuali cinta kepada
Tuhan dan rindu
Kala menyendiri bermunajat dalam kegelapan malam
Allah menjawab dan menyambutnya dengan mesra
Hamba Allah menerima karunia Tuhannya telah dekat
sehingga tenteramlah jiwanya

Ia terus menangis seraya mengulang--ulang syair tersebut. Aku kemudian turut menangis. Tiba-tiba muncul cahaya laksana kilat yang menyambar. Aku segera menutup mata. Kudengar suara yang enak didengar, tidak seperti ucapan manusia, menyeru dari atas kepala sang pemuda:

Kusambut engkau, wahai hamba-Ku, dan Ku lindungi dirimu
Telah Kuterima semua ucapanmu
Suaramu dirindukan oleh para malaikat-Ku
Kami telah mendengarnya dan cukuplah itu bagimu
Walau angin berembus dari berbagai arah ia selalu
menyungkur di hadapan-Ku
Itulah hamba-Ku yang berjalan dalam hijab-Ku
Saat ini telah Kami ampuni dosa-dosamu.

Al-Dhahhak melanjutkan:

Demi Tuhan, itu adalah munajat sang pencinta kepada kekasihnya. Aku jatuh pingsan karena melihat keagungan-Nya. Saat sadar, aku mendengar suara gaduh para malaikat di angkasa serta gemuruh kepakan sayap mereka di antara langit dan bumi. Sepertinya langit amat dekat dengan bumi. Kulihat cahaya yang mengalahkan terangnya bulan.Malam itu begitu terang berlimpah cahaya. Aku lalu menghampirinya dan memberi salam. Ia menjawab salamku. Aku berujar, "Semoga Allah memberimu keberkahan. Siapakah gerangan engkau?" Jawabnya, "Aku Rasyid ibn Sulayman." Nama itu kukenal karena pernah mendengarnya. Aku berkata, "Semoga Allah memberimu rahmat. Andaikan engkau mengizinkanku untuk menemanimu, tentu aku sangat senang." "Tidak, Tidak. Mungkinkah orang yang menikmati munajat dengan Tuhan senang bersama makhluk?" timpalnya. Ia lalu pergi. Semoga Allah meridhainya.

Baca artikel sebelumnya: Mengapa Mengantuk Padahal Kalian Terjaga.


Komentar