Wahai Hamba yang Buruk

Wahai Hamba yang Buruk
Wahai hamba yang buruk, betapa sering engkau melanggar, tetapi Kututupi. Betapa sering engkau menerobos pintu larangan, tetapi kuperbaiki. Betapa sering Kami berusaha mengucurkan air matamu karena takut, tetapi tidak juga keluar. Betapa sering Kami berupaya menjalin hubungan lewat ketaatan, tetapi engkau malah lari dan pergi. Betapa banyak nikmat-Ku yang tercurah kepadamu, tetapi engkau tidak bersyukur.

Dunia dan permainan hawa nafsu telah menipumu, sementara engkau tidak mendengar dan tidak melihat. Kutundukkan alam untukmu, tetapi engkau malah melampaui batas dan kufur. Engkau justeru meminta kekal di dunia, padahal ia hanya jembatan bagi penyeberang.

Mereka mencegahmu mereguk minuman cinta dan ketulusan
ketika melihatmu berkhianat dan berbuat nista
Jika engkau merendah kepada mereka terntu mereka baik
kepadamu dan mencinta
Tidak mungkin mereka menyakitimu
Tetapi, mereka setia kepada orang yang setia.

Diriwayatkan bahwan Hasan Al-Bashri ra. bercerita:

Aku menemui seorang majusi yang sudah pasrah menghadapi kematian. Ia tinggal di depan rumahku. Ia bertetangga dengan baik, berkelakuan baik, dan mempunyai sifat yang baik. Aku berdoa agar Allah memberinya taufik sebelum ajal dan mewafatkannya sebagai muslim.

Aku bertanya, "Apakah yang kau dapati dan bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab, "Hatiku sakit. Badanku tidak enak dan tidak berdaya sama sekali. Kuburanku mengerikan dan tidak menyenangkan. Perjalanan amat jauh, sementara aku tidak memiliki bekal. Shirath (jembatan neraka) begitu licin, tak bisa kulintasi. Apinya sangat panas, sementara aku tidak punya pelindung badan. Surga demikian tinggi, sementara aku tidak mendapat jatah. Tuhan Mahaadil, sementara aku tidak memiliki alasan."

Aku pun bertanya, "Mengapa engkau tidak masuk Islam agar selamat?" Ia menjawab, "Wahai Syekh, kuncinya ada di tangan Sang Maha Pembuka dan gemboknya ada di sini (seraya menunjuk dadanya)." Ia lalu pingsan.

Al-Hasan melanjutkan:

Aku berdoa, "Wahai Tuhanku, jika orang majusi ini menurut takdirmu baik, segerakanlah untuknya sebelum ruhnya meninggakan dunia dan harapannya sirna." Tidak lama setelah itu, si majusi sadar dan membuka mata. Ia berkata, "Wahai Syekh, Tuhan Yang Maha Pembuka telah mengirimkan kuncinya. Ulurkanlah tanganmu! Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Ruhnya kemudian keluar menuju rahmat Allah Swt.

Duhai sandaran dan Tumpuan Harapanku
Engkau adalah asa dan penolongku
Tutuplah amalku dengan kebaikan dan anugerahkanlah tobat
untukku sebelum ajal menjemput
Wahai Tuhan, tolonglah aku.

[Sebelum ini: Linangan Air Mata Muslim]

==============
Wahai hamba yang buruk konotasinya lebih kepada keadaan hamba yang lebih berat cintanya kepada dunia ketimbang hasratnya mengumpulkan bekal untuk akhirat kelak. Sehingga hamba ini sampai melanggar batas-batas larangan yang telah di atur agama, padahal dia mengetahui tetapi dia tetap membutakan dan menulikan dirinya untuk tetap menuruti hawa nafsunya. Ini juga berarti celaan untuk diri sendiri supaya tetap bisa instropeksi diri agar tidak melanggar batas agama tersebut. Wallahu'alam.


Komentar